Kecurangan Penjual Kepada Pembeli Saat Belanja Di Pasar Tradisional Dan Pelajaran Penting Untuk Diketahui Sebelum Transaksi: Sharing Pengalaman
Pasar tradisonal sebagat tempat untuk membeli semua kebutuhan sehari-hari tidak luput dari kecurangan antara penjual kepada pembeli. Hal ini tentu berdasarkan pengalaman saya yang selalu mengandalkan pasar tradisional untuk mencari semua keperluan dapur dengan harga yang murah cenderung sangat kompetitif. Memang penghematan harus selalu dilakukan walau satu item saja telah terhemat Rp 1.000 saja jika jumlahnya banyak cukup fantastis pula uang yang terkumpul. Berbagai pola kecurangan yang saya alami ini tentu dapat menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan ingin saya sharing ke teman semua lainnya di dalam tulisan ini.
Apa saja pola kecurangan penjual kepada pembeli saat belanja di pasar tradisional yang pernah saya alami dan telah menjadi pelajaran penting untuk waktu selanjutnya. Berbagai kasus yang telah menjadi perhatian agar barang yang didapat memang sesuai dengan keinginan:
1. Saat Membeli Telur: Telur lama di oplos dengan telur yang baru.
Tentu oknum penjual ada melakukan hal seperti ini, telur yang tidak habis di waktu lampau dicampur dengan telur yang baru datang sehingga tidak ada perbedaan sama sekali setelah masuk di dalam display jualan. Hal tersebut awalnya memang sulit untuk membedakannya, karena keterbatasan skil untuk medeteksi telur yang telah dioplos ini relatif sama saat telah tercampur. Jadi, setelah digunakan sebagai lauk di rumah terlihat telur tersebut sudah encer bahkan ada yang busuk hingga tidak layak utk dikonsumsi.
Solusi:
dengan kasus yang terjadi ini tentu saya tidak mau mendapatkan telur kondisi seperti itu lagi. Solusinya saya mencari penjual lain yang memang jujur dalam menyampaikan informasi jenis telur yang mereka jual. Saya selalu memperhatikan penjual lain yang punya attitude baik dalam memberikan informasi yang benar dan selalu saya catat di mana lokasi tokonya. Ada beberapa penjual memberikan jenis telur yang baru dan berani menyampaikan bahwa yang dijual sekarang benar-benar baru. Tandanya adalah pelanggannya dari rumah makan, cafe, hingga penjual makanan lainnya. Mobilitas pertukaran telur masuk dan keluar sangat tinggi berarti kondisi telur sangat super segar tidak lama tersimpan. Dengan melihat fenomena ini tentu menjadi faktor penentu bagi saya untuk memilih toko ini. Karena langganannya sudah banyak seperti ini tidak akan mungkin memberikan kualitas rendah terhadap telur yang akan dijual.
2. Saat Membeli Santan Kelapa: Katanya santan baru tetapi santan sudah lama.
Tentu santan sebagai bahan baku penting untuk membuat aneka masakan berkuah seperti gulai hingga rendang harus segar. Keterbatasan waktu untuk membuat santan ini saya harus ke pasar tradisional untuk memenuhi semua kebutuhan masakan. Saat itu saya mendapatkan penjual yang menyediakan santan yang sudah basi terasa baunya saat sudah sampai di rumah. Saya memang salah waktu itu tidak melakukan pengecekan karena percaya saja sama penjual yang menyediakan santan tersebut. Tetapi apa boleh buat, sekian kilo terbuang percuma dan harus saya beli lagi ke penjual lain dengan kondisi segar.
Solusi:
bahan baku santan ini memang sebaiknya dibuat sendiri dari kikir daging kelapa kemudian peras untuk mendapatkan santan. Tetapi masalah waktu lah yang membuat cara yang praktis membeli ke penjual di pasar tradisional. Dengan kasus ini saya langsung melihat penjual lain yang menyediakan santan kelapa dengan cara melihat banyaknya pelanggan membeli cukup ramai dan toko nya cukup luas. Berjalannya waktu saya mendapatkannya dan memperoleh kondisi santan kelapa yang sangat segar. Berbalik dengan penjual sebelumnya saat saya melintas tokonya sepi jarang sekali pembeli. Itu lah, jika hasil jualanan tidak baik maka pembeli akan menjauh sehingga pemasukan penjual tersebut menjadi berkurang drastis.
3. Membeli Beras Ke Pemasok Terpercaya.
Kebutuhan pokok ini harus tersedia cukup di rumah agar saat mau makan tidak perlu mencari lagi cukup buka tabung dan langsung masak. Banyak sekali jenis beras yang ada di pasaran dan tidak semua pula cocok untuk dikonsumsi karena rasa dan tekstur berasnya. Begitu juga dengan saya, ada jenis beras tertentu yang harus yang beli untuk memenuhi semua kebutuhan makan di rumah. Untuk beras memang dari segi bentuk luar tidak dapat bisa melihat mana beras yang prima, sedang, atau bawah. Tetapi saat telah menjadi nasi kualitas beras dapat teruji baik dari segi rasa dan teksturnya. Pengalaman saat dulu memang saya mendapatkan beras kualitas kurang bagus sehingga nasi terbuang percuma jika berlebih keesokan harinya.
Solusi:
awalnya memang mencari penjual yang jujur dengan kondisi beras dan berasal dari sentra yang populer. Setelah saya mengetahuinya maka tidak membeli saja bahkan menjadi penjual beras untuk mencoba peruntungan di bidang bahan pokok ini. Sambutan pasar cukup baik sehingga telah menjadi cara saya untuk mencari nafkah. Tidak hanya untuk kebutuhan diri sendiri tetapi membantu rekan lainnya yang ingin mendapatkan jenis beras premium dari sentra yang terpercaya. Awal cerita saya mendapatkan tidak sesuai dengan selera dan kriteria akhirnya menjadi seorang penjual beras. Dengan mengenal sentra beras yang dipercaya saya menekuni penjualan beras ini sampai sekarng.
4. Membeli Cabe dan Bawang Merah.
Jenis bumbu dapur untuk membuat masakan menjadi lebih lengkap sudah tentu pasti cabe dan bawang merah sebagai bahan yang paling dicari. Di pasar tradisional tentu banyak sekali penjual sediakan bumbu ini dengan harga yang kompetitif. Tidak itu saja, untuk jenisnya ada berasal dari beberapa daerah dengan rasa yang berbeda pula seperti cabe. Rasa pedas tingkat tinggi berbeda bentuk dan ukurannya. Khusus untuk cabe keriting dari daerah jawa dan pegunungan di Sumatera terasa beda pedasnya. Hal ini lah yang menjadi pilihan bagi saya yang suka rasa pedas yang nendang agar makan nasi di rumah menjadi lebih nikmat.
Saya rasa untuk oplos cabe ini belum pernah terlihat karena harga cabe dari pegunungan Sumatera cenderung lebih mahal sedikit jika dibandingkan dengan cabe dari jawa. Karena saya suka pedas maka dari pegunungan lah lebih suka rasa pedas lebih tinggi. Masalah oplosan saya rasa tidak akan mungkin karena perbedaan harga tadi tentu penjual tidak mau rugi dengan jualannnya.
Solusi:
saya lebih suka penjual yang tetap tidak berubah tempatnya, karena dengan langganan ini tentu akan memperhatikan kualitas. Tetapi, jangan salah saya juga survei harga dulu dari beberapa penjual misalnya di kaki lima penjual eceran yang berani dengan harga miring dan kualitas cabe masih baik malah saya langsung beli. Jika menurut saya kurang bagus dengan harga yang telah disebutkan maka saya mencoba ke penjual langganan saya supaya mendapat cabe yang lebih baik. Rata-rata hampir sama saya lihat, penjual cabe dengan jumlah banyak dan sedikit sumber atau pemasoknya sama hanya masalah harga saja yang membedakannya. Hal yang sama juga saya berlakukan juga dengan bawang merah. Untuk bumbu lainnya bawang putih, jahe, lengkuas, kencur, dan lainnya tidak terlalu sulit karena sudah pasti penjual dengan pembeli yang ramai hasilnya masih fresh.
PELAJARAN PENTING DARI PENGALAMAN INI.
Dari beberapa pengalaman yang saya temukan ini tentu menjadi hal yang sangat penting untuk diri sendiri. Setiap membeli kebutuhan apapun itu saya selalu mempraktekannya apalagi jika membeli dalam kebutuhan banyak aspek ini harus saya ikuti:
a. Masalah harga sudah tentu pasti aspek yang sangat menentukan apalagi sudah berumah tangga tentu menjadi hal yang sangat sensitif. Sedikit mahal akan mencari penjual lainnya untuk mendapatkan harga yang sangat kompetitif untuk memenuhi semua kebutuhan nanti. Lakukan komparasi harga jika memang harus dilakukan agar mendapatkan harga pasar saat itu berapa jumlahnya. Agar supaya tidak terjadi lebih bayar saat anda mengetahui harga penjual sebelah jauh lebih murah.
b. Saya lebih baik mencari penjual yang jujur untuk memenuhi semua kebutuhan makanan dan masakan. Kepercayaan ini tentu ada baiknya, karena sudah menjadi langganan tentu penjual akan berfikir dua kali jika ingin melakukan penipuan. Rata-rata penjual lebih mengutamakan langganan mereka untuk belanja di tempat mereka karena berdampak pada pembeli lainnya saat melakukan transaksi di toko penjual tersebut. Semakin ramai tentu akan memberikan isyarat bagi pembeli lainnya secara tidak langsung akan membuat langganan baru tercipta dengan sendirinya.
c. Timing waktu pembelian di pasar tradisional juga ada pengaruhnya. Misalnya saya membeli kebutuhan dapur di pagi hari dan sore hari ada perbedannya, ya memang ada perbedaan harga sedikit. Menurut saya harus dilakukan walau ada beda sedikit jika dikumpulkan dalam waktu lama jumlahnya akan besar juga. Misalnya, pembelian sayuran di pagi hari dan sore hari. Jika hal ini saya lakukan maka siap-siap saja kesegaran sayur tersebut akan berkurang akibat sudah beberapa jam berada di luar. Intinya, pintar memilih penjual mana yang punya sayur segar sesuai dengan keinginan pembeli walau waktunya di pagi atau sore hari.
d. Membeli jumlah lebih untuk bahan dapur tertentu seperti bawang atau cabe. Saya melakukannya untuk kebutuhan keluarga saja, jika harga cenderung turun maka saya olah menjadi sambel bawang dan kemudian saya bekukan di feezer. Dengan cara ini saya bisa konsumsi sambel bawang ini untuk beberapa waktu kedepan dengan rentang +/- 2-3 minggu. Cukup efektif karena saya memasaknya dalam jumlah tidak terlalu banyak ya sekitar 1-2 kg, setelah masak maka saya bagi pada bungkusan plastik. Setelah rapi saat saya konsumsi tinggal ambil bungkusan plastik tersebut dan tidak repot untuk mengeluarkannya dari feezer. Ini lah pelajaran yang paling saya senangi saat bahan dapur cenderung turun, dapat menghemat belanja dan pastinya untuk kebutuhan sendiri menjadi terbantu dengan membuat jumlah banyak dan dibekukan.
e. Sangat penting hal ini untuk diketahui bahwa jika jenis barang yang saya cari di pasar tradisional harganya sangat tinggi saya ganti dengan barang jenis lain yang pastinya masih sama nilai gizinya. Sebagai contoh jika harga daging melonjak tinggi saya gantikan dengan ayam atau ikan. Substitusikan semua hal yang bisa saja terjadi, nilai gizi protein dapat selalu tercukupi walau jenisnya berbeda. Tidak terlupa juga saya tambahkan juga dengan protein nabati seperti tahu atau tempe untuk melengkapi semua kebutuhan setiap hari. Jangan pernah lupa berkreasi untuk masalah nilai gizi karena asupan gizi ini cukup penting agar kondisi tubuh tetap dalam baik dan sehat sepanjang waktu.
f. Kebiasaan saya waktu ke pasar tradisional adalah ada masa berkeliling sejenak untuk melihat kondisi harga pasar bahan-bahan yang saya butuhkan. Dengan cara ini saya dapat mendengar penjual lainnya menyebutkan harga bahan tersebut dan pastinya ke toko penjual tetap untuk mendapatkan barang tersebut saya telah mengetahui harga pasarnya. Cara seperti ini lah yang sebaiknya dilakukan supaya saya tidak terkecoh dengan harga disebutkan oleh penjual, tidak bayar terlalu mahal untuk pilihan yang dicari. Saya anggap berkeliling ini untuk mengamati suasana pasar agar barang yang menjadi target sudah mengetahui berapa harga pasarnya.
Komentar
Posting Komentar
Yuk, sharing komentar